Pelajaran Berharga dari Drama Korea

0
33
Sejumlah anak muda sedang digembleng untuk dijadikan boyband di pusat pelatihan K-Pop, Rainbow Bridge di Seoul, Korea Selatan, Januari 2012. Kompas/Budi Suwarna

Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, budaya Korea mulai menyebar ke berbagai belahan dunia. Fakta bahwa masa lalu Korea Selatan yang menutup diri pada dunia luar menjadikan antusiasme tersendiri bagi masyarakat, baik dari warga Korea Selatan sendiri maupun bagi masyarakat global.

Cepatnya jaringan komunikasi Korea Selatan juga berpengaruh terhadap kecepatan menyebarnya virus musik dan dramanya, yang lebih dikenal dengan Hallyu Wave atau Gelombang Korea. Orang-orang tidak lagi menganggap Korea Selatan sebagai negara tertutup, namun negara yang bisa dijadikan sebagai panutan. Perekonomian Korea Selatan melaju pesat dari segi teknologi, fashion, musik dan perfilman, bahkan pembangunan tata kota.

Bagi yang mengikuti perkembangan drama Korea, pasti tidak asing dengan serial Winter Sonata yang oleh pebisnis setempat dibuatkan patung di sebuah pulau, Pulau Nami, hingga kini menjadi destinasi wisatawan lokal dan mancanegara. Atau baru-baru ini perfilman Korea juga melejitkan Train to Busan dan The Battleship Island.

Salah satu sudut MBC Studio di Seoul, Korea Selatan. Di studio seperti inilah drama-rama korea kebanyakan dibuat. Kompas/Budi Suwarna

Suatu ketika, temanku bertanya, “Apa untungnya nonton drama begituan?” yang merujuk pada tontonan anak remaja sepertiku, Drama Korea.

Sebagai remaja yang mempelajari seluk-beluk Korea Selatan dan juga penikmat Hallyu Wave, ada beberapa hal yang bisa dijadikan contoh atau panutan oleh para penonton Drama Korea. Apakah itu dari sisi bersosial maupun berkarya di bidang yang sama.

Pertama, Drama Korea membawa citra baik bagi negaranya. Akan terlihat sangat jelas apabila kita menonton bukan karena ketampanan dan kecantikan pemainnya saja, namun juga melihat apa saja yang dipersiapkan matang-matang oleh tim produksi drama.

Citra yang paling menonjol tentu pengelolaan tempat-tempat wisata. Tak jarang setiap tempat yang pernah dijadikan lokasi syuting drama, pasti akan ramai didatangi pengunjung. Seperti Namsan Tower di kota Seoul bahkan sisi romantisnya Pulau Jeju. Keindahan-keindahan semacam ini tentu banyak menarik perhatian masyarakat sehingga yang memiliki banyak dana pasti menjadikan Korea Selatan sebagai destinasi liburan.

Selain itu, sisi pendidikan dan kesehatan juga diangkat dalam drama. Tidak sedikit drama yang melatarbelakangkan kehidupan sekolah anak muda seperti School 2017 yang merupakan lanjutan dari drama dengan judul serupa di tahun berbeda, atau juga The Heirs. Korea Selatan memang sudah dikenal sebagai negara yang menerapkan pendidikan super ketat.

berbanding sedikit berbalik dengan sinema Indonesia di mana siswa berseragam lebih asyik memikirkan cinta dan kecemburuan, balapan liar, bahkan tawuran

Panjangnya jam pembelajaran di sekolah dan ketatnya persaingan masuk universitas ternama menjadi topik menarik dan sesuai fakta. Memperlihatkan bahwa pemerintah Korea Selatan sangat memperhatikan kualitas generasi bangsa dari sisi pendidikan, keluar dari sisi gelap pendidikan Korea Selatan yang banyak membuat siswanya memilih untuk bunuh diri. Hal-hal yang dipelajari selama di sekolah juga ditunjukkan melalui scene dalam drama. Seperti menulis esai dan juga kelas praktikum.

Hal ini berbanding sedikit berbalik dengan sinema Indonesia yang mana siswa berseragam lebih asyik memikirkan cinta dan kecemburuan, keterampilan balap liar, bahkan tawuran.

Tidak hanya pendidikan, karena Drama Korea juga menyediakan kisah di ranah kesehatan. Drama berlatar belakang rumah sakit dikemas menarik guna memperkenalkan pelayanan serta teknologi kesehatan, dan juga dokter berkualitas tinggi yang dimiliki oleh Korea Selatan seperti drama Good Doctor, Doctor Stranger atau yang sedang tren adalah Hospital Ship. Di samping itu, Korea Selatan juga mendapat julukan “Surganya Operasi Plastik” yang oleh sebagian orang dianggap aib, namun dalam Drama Korea dikemas menarik. Salah satunya diangkat menjadi kisah pada drama Marriage Not Dating dan Birth of Beauty.

Kedua, sisi perjuangan yang melodramatis. Seperti kisah sejarah Korea Selatan dalam menghadapi Jepang atau mempertahankan eksistensi di mata Korea Utara, diwujudkan menjadi kisah pemain utama yang memilukan untuk bertahan hidup.

Ratusan gembok dicantolkan di sebuah sudut halaman di Namsam Tower, Seoul. Gembok berisi pesan-pesan cinta.
Kompas/Budi Suwarna

Sisi pilu tidak selalu menguras air mata, namun juga dikemas menjadi kisah menarik dan menginspirasi. Beberapa Drama Korea menjadikan latar belakang musik sebagai contoh kisah perjuangan. Bahwa di balik ketenaran seorang artis, ada perjuangan menguras emosi yang dilakukan oleh seorang trainee. Hal ini mempertegas bahwa untuk menjadi terkenal membutuhkan perjuangan sepenuh hati.

Seperti upaya pemerintah setempat untuk menjadikan Korea Selatan sebagai pusat bisnis ataupun panutan di ranah gaya berbusana. Membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mewujudkannya. Kita bisa melihat perjuangan serupa dengan kisah yang dikemas berbeda dalam drama Dream High, perjuangan anak sekolahan untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang artis ternama. Atau keinginan anak keterbelakangan mental untuk menjadi seorang dokter di drama Good Doctor.

Ketiga, pantang menyerah untuk tetap berkarya. Banyak Drama Korea yang sudah digarap sungguh-sungguh seperti ketika musim dingin yang bisa membekukan siapapun, atau mengeluarkan banyak dana melakukan syuting hingga ke luar negeri, namun peringkat jumlah penonton tidak banyak. Drama Korea akan dikatakan sukses jika menembus rating sekian persen, rata-rata sepuluh persen (10%) hingga tiga puluh persen (30%).

Keberadaan artis ternama dengan wajah menjual bukan kepastian bahwa drama tersebut akan laris. Karena beberapa artis tampan dan cantik juga pernah bermain drama yang hanya mengantongi peringkat tidak lebih dari 10%.  Menjadi keberuntungan apabila pemainnya tidak terlalu memiliki tampang menarik, namun dikarenakan kisah yang asyik dan beda dari yang lain, maka drama itu bisa jadi meraih peringkat lebih dari 10%.

Sejumlah fans berat K-Pop dari berbagai negara, nongkrong di depan kantor manajemen artis K-Pop, Cube, di Gangnam, Seoul, Januari 2012. Mereka berharap bisa bertemu dengan artis K-Pop di sana. Kompas/Budi Suwarna

Perolehan yang tidak sesuai ekspektasi ini tidak lantas membuat pemain ataupun rumah produksi menyerah dan enggan berkarya lagi. Mereka terus mencoba dengan berbagai macam cerita, memperhatikan isu sosial menjadi gudang inspirasi.

Secara pribadi, Drama Korea memang seolah membawa perasaan bahagia menjadi begitu mendominasi. Namun di sisi lain, Drama Korea juga bertindak sebagai pendengar, merefleksikan kehidupan nyata penonton dalam bentuk berbeda dan menarik, sekaligus bertindak sebagai penenang. Tidak sedikit yang memang menjadi kecanduan menonton Drama Korea. Hanya saja, perlahan-lahan akan terbentuk sikap pendewasaan dari diri masing-masing.

Sebagai penggemar, ada kalanya kita mencontoh apa yang dilihat dan ditonton dari drama sehingga  perlu sekali untuk mengenali mana drama yang membawa dampak buruk dan mana yang membawa dampak baik.

Yuk, nonton Drama Korea dan mengenali potensi diri manakah yang bisa dikembangkan? Siapa tahu kita bisa mengaplikasikannya menjadi sebuah karya kreasi anak bangsa, menjadikan dunia perfilman Indonesia layak ditonton semua orang dan membawa energi positif kepada semua penonton.