‘Gaya Kreasi Baru’, for ‘Anak Muda Jaman Now’

0
37
Anak-anak belajar mengenal tokoh pewayangan sebelum belajar mendalang di Gedung Sobokarti, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (21/7/2013). (Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yakni budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan dan keselarasan serta keserasian dalam kehidupan sehari–hari.

Tidak hanya itu saja, Budaya Jawa ini juga menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di Jakarta, Sumatra dan bahkan sampai Suriname. Budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah wayang kulit, keris, batik, kebaya dan gamelan[1] (sebutan untuk seperangkat alat musik dari Jawa, yang terdiri atas saron, bonang, gendang, gong dan lain sebagainya).

Dari sekian banyak budaya yang ada di Jawa, melalui tulisan ini saya akan membahas tuntas tentang wayang kulit. Wayang kulit merupakan seni pertunjukan asli Indonesia yang amat berkembang pesat di tanah Jawa dan Bali. Tidak hanya di kedua pulau tersebut saja, akan tetapi pertunjukan wayang kulit ini juga populer di beberapa daerah seperti Sumatra, Kalimantan, bahkan sampai Semenanjung Malaya juga memiliki beberapa budaya wayang kulit yang terpengaruh oleh kebudayaan Jawa dan Hindu.

Seiring perkembangan zaman dan era globalisasi, banyak sekali kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia dengan mudah wabil khusus di bidang musik, seperti rock, RnB, blues, reggae, jazz, dan lain sebagainya. Sehingga membuat budaya warisan leluhur yang satu ini makin ditinggalkan oleh ‘anak muda jaman now’, dengan alasan sudah ‘jadul’ atau ketinggalan zaman. Akan tetapi, hal ini tidak membuat para dalang (sebutan untuk orang yang memainkan wayang) mengkreasikan atau membuat aransemen dan kolaborasi dari berbagai macam alat–alat musik modern yang hasilnya tidak kalah dengan musik–musik dari luar negeri.

Tujuan utama dari para dalang tersebut tidak lain adalah agar wayang kulit dapat dikenal dan diminati oleh generasi melenial (generasi yang lahir diantara tahun 1980 sampai tahun 2000), yang sebagian besar dari mereka lebih memilih budaya dari luar negeri daripada budaya asli negeri sendiri.

Salah satu sosok dalang yang menggunakan trik tersebut adalah dalang kondang dari pesisir pantai utara Rembang yakni Ki Sigid Ariyanto. Ia membuat kreasi baru dalam pementasan wayang kulit yang dibawakannya. Semenjak masih mengenyam pendidikan di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia), memang ia sudah melenceng dari gaya–gaya wayangan klasik pada umumnya. Itu semua meniru atau mencontoh dari dalang legendaris yakni Ki Manteb Sudarsono yang pertama kali menciptakan ide gaya kreasi baru pakeliran wayang kulit, kisaran tahun 2000.

Dengan menampilkan pentas wayang kulit yang beda dari sebelumnya, diharapkan dapat menambah peminat dan menarik perhatian kalangan anak muda untuk ikut serta dalam melestarikan budaya asli Indonesia yang satu ini agar tidak mengalami kepunahan.

Butuh waktu yang amat lama, untuk berlatih mulai dari nol sampai dengan kompak seperti yang sering kita jumpai di suatu pentas. Ki Sigid Ariyanto dan team berkumpul setiap harinya di Sanggar Seni Cakraningrat, tepatnya berada di Tawang Sari, RT. 007 RW. III – Kelurahan Leteh–Rembang–Jawa Tengah, untuk berlatih dan diskusi bersama serta mencari ide yang hendak dijadikan bahan untuk dikreasikan semodern mungkin, dan dibantu oleh para komposer ternama di wilayahnya. Semakin lama mereka berkumpul, maka akan semakin kompak pula dalam membawakan hasil aransemen yang mereka ciptakan bersama–sama.

Mereka tidak hanya sekadar mencari uang saja, akan tetapi mempunyai misi khusus yang amat mulia yakni memperkenalkan budaya yang telah ditetapkan pada tahun 2003 oleh UNESCO (lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB) sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity atau sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur,  kepada kalangan anak muda.

Jalan yang mereka tempuh ternyata tidak sia-sia begitu saja, kerja keras mereka selama ini telah membuahkan hasil. Buktinya, ketika Ki Sigid Ariyanto tampil di suatu acara, entah itu acara walimatul ‘ursy atau pernikahan, walimatul khitan atau sunatan, bahkan sampai acara yang diadakan oleh pemerintah (seperti hari jadi suatu kota, sosialisasi–sosialisasi yang diadakan oleh lembaga pemerintahan, dan lain sebagainya) banyak sekali anak muda yang ikut serta hadir dan menyaksikan pentasnya.

Salah duanya adalah Yossi, si–gadis cantik yang berasal dari Jepon–Blora dan Lakna Tulas ‘U.N. (yang menulis tulisan ini) yang terhipnotis dan terkesima untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit gaya kreasi baru sampai ‘dumugining paripurna’ atau sampai selesai pagelarannya dan masih banyak lagi anak muda yang hadir.

Tidak hanya mengkreasikan gaya baru saja untuk menarik perhatian dan hati masyarakat wabil khusus kalangan anak muda, biasanya team dalang kondang dari Rembang yang juga pangripta atau pencipta lagu–lagu Jawa yang tidak sedikit lagu ciptaannya telah dibawakan oleh Cak Diqin, juga menggandeng sejumlah bintang tamu dan pelawak ternama seperti Didi Kempot, Cak Diqin, Gogon, Gareng Semarang, Bagong Semarang dan lain sebagainya. Mereka semua juga ikut andil dan bekerja sama untuk mengkreasikan dan mengaransemen semodern dan seenak serta senikmat mungkin untuk didengarkan dan disaksikan semalam suntuk tanpa menimbulkan rasa boring atau bosan.

Dalang yang banyak sekali prestasi dan pengalaman di bidang kesenian ini, mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman, yaitu perkembangan budaya barat khususnya di bidang kesenian yang sudah banyak dan berkeliaran di Indonesia. Dengan melakukan dan menciptakan wayang kreasi baru yang amat cocok untuk ‘anak muda jaman now’, diharapkan kalangan anak muda mau melestarikan budaya satu ini yang juga dimanfaatkan para Walisongo khususnya Raden Said yang diperkirakan lahir pada tahun 1450 atau nama panggungnya Sunan Kalijogo untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ini.

Bayangkan, tokoh Walisongo saja, menggunakan media wayang kulit untuk menyebarkan agama rahmatan lil ‘alamin. Lah kita ? Orang yang biasa saja dan tidak mempunyai kelebihan di bidang apapun dibandingkan dengan Walisongo, mosok gengsi untuk menguri-uri Budaya Jawi ? Tidak hanya Walisongo saja yang kesengsem sama wayang kulit, tetapi juga Sang Maestro Didi Kempot. Ia menciptakan sebuah lagu  yang berjudul Wayang Kulit, lagu tersebut menceritakan mengenai keelokan dan kelebihan dari wayang kulit. Jika kamu (pembaca) tidak mau melestarikannya, malu dong, sama kucing….

Itulah sekelumit tulisan atau artikel mengenai wayang kulit yang merupakan budaya tradisi yang telah dikreasikan oleh banyak dalang untuk memikat hati ‘anak muda jaman now’, agar mau melestarikan dan tidak mengalami kepunahan. Kalau bukan kita ? Siapa lagi ? Kalau bukan sekarang ? Kapan lagi ?… Wayang kulit, budoyo tradisi… Wis misuwur, sak jagad milangkori… Mula kuwi, ojo nganti lali… Yukk sedulur, pada dipundhi – pundhi… Yukk sedulur, pada dipundhi–pundhi… Yukk seduluuurrr, pada dipuundhii–puundhiii….

SALAM BUDAYA !!!

 

 [LAKNA 17 ‘UN || #0048]

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa