Jauh di Mata, Dekat di Hati

0
80
TR

Long distance relationship (LDR) alias pacaran jarak jauh memang menantang. Banyak yang perlu dipertimbangkan, tapi sensasinya luar biasa. Jangan bermuram-durja! Di balik jarak yang membentang jauh, para pejuang LDR merasakan nikmatnya kata pepatah, “Jauh di mata, dekat di hati”.

Asmara selalu membuat mabuk kepayang para pasangan. Banyak anak muda yang akhirnya menjalin kasih selama bertahun-tahun. Tapi nggak bisa dipungkiri, situasi berkata lain. Salah satu dari mereka harus merantau. Entah tuntutan untuk belajar atau bekerja di tempat lain.

Chris Bell dan Kate Brauer-Bell (1977) dalam bukunya “The Long-Distance Relationship” menyebutkan beberapa masalah menjalani model hubungan ini. Misalnya komunikasi melalui telepon, persoalan kepercayaan, dan memanajemen waktu untuk menyeimbangkan antara melakukan perjalanan dan pekerjaan.

Berkomunikasi melalui telepon menjadi bagian mutlak para pasangan untuk bertukar kabar. Entah hanya sebatas mengirimkan pesan atau panggilan video.

“Tiap ada kesempatan komunikasi kita manfaatin sebaik mungkin, entah bertelepon atau video call. Ada waktu bebas, sebisa mungkin saling berkabar, jangan asal ‘menghilang’,” kata Patricia Chrisdiana Ayu Laksita, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya, Malang.

Meskipun lebih praktis dalam berkomunikasi, telepon dan media sosial juga menambah kerumitan hubungan mereka. Terkadang Diana dan pacar salah paham karena perbedaan pemaknaan. Tidak ada intonasi jika hanya saling berkirim pesan.

Usaha untuk bisa berkomunikasi juga tidak main-main. Andrea Novita Rinesti, mahasiswa Universitas Maranatha, Bandung beserta pasangannya sering mencari Wi-Fi gratis. Novi sering memanfaatkan fasilitas kos dan kampus guna berkomunikasi dengan pacarnya di Malang.

Persoalan lainnya para pasangan tak dapat bertemu tiap hari karena masalah ongkos. Jarak yang jauh pasti membutuhkan lebih banyak ongkos perjalanan. Demi mendapatkannya, mereka biasanya rela menabung berbulan-bulan demi bertemu dengan pujaan hati.

“Aku perlu nabung sekitar tiga bulan baru bisa ke Jakarta. Targetku dapat Rp 2 juta biar bisa ketemu pacar,” tutur Diana.

Diana dan pacarnya mulai memperhitungkan pengeluaran karena LDR. Berhubungan jarak jauh memaksa mereka untuk menambah pengeluaran. Dibandingkan sebelumnya ketika keduanya tinggal berdekatan. Hal serupa juga dialami oleh pasangan lainnya.

Deonisius Pradipta Aprisa, mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Internasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta juga mengakui pengeluaran terbanyak untuk ongkos bertemu. Dalam setahun, ia merencanakan untuk berjumpa dengan kekasihnya tiga kali. Untuk keseluruhan, Deo menghabiskan Rp 2 juta selama empat hari. Jarak Yogyakarta-Bogor terasa dekat, ketika seluruh biaya terkumpul.

Tapi dari situlah kedewasaan para pasangan ini tumbuh. Baik Diana maupun Deo, mereka bersama pacarnya masing-masing mengatasi permasalahan tersebut. Agar pengeluaran tidak membludak, kedua pasangan ini membuka tabungan bersama.

“Jadi kita punya tabungan bersama yang digunakan ketika bertemu, seperti makan dan jalan-jalan. Tabungan bersama itu kita isi 100 ribu rupiah per bulan,” ujar Deo.

Ketika bertemu, apa yang mereka lakukan? Para pejuang LDR biasanya akan memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Sebab mereka sadar, momen seperti itu tidak akan berlangsung lama.

“Kalau lagi ketemu, aku pasti susah dicari. Saking menikmati waktu berdua sampai lupa megang HP,” tutur Novi.

Cobaan lainnya, ketika malam Minggu tiba. Ketika semua orang keluar dengan pasangannya masing-masing. Para pejuang LDR tentu perlu menyibukkan diri. Rasa iri itu manusiawi, apalagi ketika jenuh melanda.

“Lihat temen keluar jalan sama pacarnya, pelaku LDR cuma bisa di kamar kos, merhatiin layar HP doang. Kayak nggak ada bedanya antara jomblo sama LDR-an karena sama-sama nggak bisa keluar jalan berdua,” ujar lelaki berusia 20 tahun ini sambil tertawa.

Tinggal saling berjauhan, membawa kebebasan bagi sepasang pejuang LDR. Kebebasan bak pisau bermata dua. Terkadang kebebasan itu bisa menjadi bumerang bagi para pasangan. Oleh karena itu, kedua pihak perlu mengontrol kebebasan yang didapat. Mereka tak menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk mencari-cari kesalahan.

“Justru adanya kebebasan, kami malah jadi sungkan kalau mau ‘nakal’ dengan orang lain. Masa iya hubungan udah dua tahun rusak gara-gara kesenangan sesaat dengan orang lain,” tutur Diana.

Deo pun memanfaatkan kebebasan yang ada untuk menyibukkan diri dengan beragam kegiatan dan organisasi kampus. Menurutnya, waktu untuk pekerjaan lain lebih banyak karena nggak ada kewajiban bertemu tiap hari.

Pernyataan senada juga dibenarkan oleh Aurelia Aranti, kekasih Deo yang tengah berkuliah di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. “Aku jadi bisa fokus buat upgrade diri sendiri. Jadi nggak sedikit-sedikit pacaran,” ujar Aurel.

Bulir-bulir kerinduan menjadi penyemangat bagi para pasangan LDR. Perasaan itu meningkatkan kedewasaan satu sama lain. Mengurangi ego individu dan lebih bijak menyikapi suatu permasalahan. Jauhnya jarak juga membuat para pasangan LDR berlatih kesabaran dan kepercayaan.

“Nggak tahu kenapa, tiap lihat fotonya (pacar), dia pasti kelihatan lebih ganteng. Efek lama nggak ketemu mungkin ya,” ungkap Diana sambil tertawa.

Siapa bilang LDR itu menyakitkan? Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Jarak memang terkadang bisa jadi luka. Namun, rindu tentu bisa jadi obatnya. Menjalani hubungan jarak jauh mengajarkan para pejuang LDR untuk mengalami perjumpaan yang indah tiap detiknya.

 

Yosepha Pusparisa

Mahasiswa Prodi Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, sedang magang di Kompas Muda

(tulisan di atas menjadi bahan liputan Kompas Muda dengan judul “Pengakuan Pejuang LDR” yang dimuat Harian Kompas edisi Jumat, 25 Agustus 2017)