Nama Pasaran? Siapa Takut!

0
61
Kompas/Didie SW

Berteman dengan orang-orang yang memiliki nama populer alias pasaran tentu kaya akan cerita unik. Pengalaman untung dan rugi, bahkan menjadi rutinitas dalam kehidupannya sehari-hari.

Orang tua tentu memberi beragam harapan pada tiap nama yang diberikan bagi anaknya. Meskipun nama tersebut juga dipunyai oleh beberapa orang lainnya. Seperti nama “Agus” bermakna laki-laki pemberani, bagus, dan baik.

Jangan salah, mereka dengan nama pasaran biasanya berpeluang untuk mendapatkan promo di hari-hari tertentu. Jogja Bay, kolam berenang di Yogyakarta menggratiskan biaya masuk untuk semua orang bernama Agus. Cukup tunjukkan tanda pengenal berunsur nama “Agus”. Pengelola memanfaatkan momen sebagai ajang promosi sekaligus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.

Selain berpeluang mendapat promo unik, seseorang dengan nama pasaran juga dapat lebih mudah akrab dengan orang baru. Nama pasaran sepertinya memang memiliki ciri khas tersendiri.

“Nama pasaran biasanya mudah diingat orang, mudah dihafalkan karena punya ciri khas tersendiri. Jadi aku menikmati punya nama pasaran,” ujar Yustina Putri Nurida, mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jumat (11/8).

Dalam percintaan, nama pasaran bisa membuat sang mantan kekasih terasa berat untuk move on. Apalagi kalau bukan karena namanya yang terus terngiang di benaknya. Bahkan di tempat umum pun, selalu ada celah untuk tak sengaja bertemu seseorang dengan nama yang sama dengan di masa lalu.

“Untungnya ya gampang dikenal, juga gampang diingat buat susah dilupakan. Mempersulit mantan untuk move on,” kata Yohanes Dwi Anugrahanto, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang sambil tertawa, Jumat (11/8).

Di balik keuntungan-keuntungan yang ditawarkan oleh nama pasaran, ternyata kerugian yang dirasakan juga tak dapat dihindari. Nasib memiliki kesamaan nama dengan orang lain, wajar jika banyak yang mengalami salah duga. Maksud kata memanggil orang lain, sebaliknya dengan percaya diri malah menanggapinya karena nama yang sama.

“Salah satu momen yang nggak pernah terlewat dengan orang bernama pasaran, salah duga udah jadi ciri khas. Kadang malu sih udah salah respons, ‘kan kesannya ke-PD-an,” tambah Putri.

Berbeda dengan Putri, Dwi lebih mencari aman dalam merespons seseorang yang memanggil namanya. Walaupun lehernya terkadang merasa lelah karena namanya terus dipanggil, ia akan membiarkan orang-orang yang memanggilnya. Dwi sekaligus memastikan, memang sungguh ia yang dipanggil oleh orang yang dimaksud.

Aditya Mamonto, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan memiliki pendapatnya sendiri. Ia sering salah merespons karena orang lain yang memiliki kemiripan dengan namanya.

“Kalau tertukar kadang memang karena salah dengar. Tertukarnya malah bukan karena sesama ‘Adit’, tapi karena suku katanya sama. Contohnya ‘Dito’ dengan ‘Adit’, nah kan sama-sama ‘Dit’ tuh, jadi ketukarnya di situ,” ungkapnya, Jumat (11/8).

Tak ada yang perlu disesali sekalipun memiliki nama pasaran. Tiap nama menyiratkan harapan baik di dalamnya. Jadi enggak perlu keki, malah nama kamu populer dan mudah diingat banyak orang.