Menyulap Kampus APU menjadi Rumah Mahasiswa Indonesia

0
22
Pertunjukan Tari Barong yang ditampilkan di Indonesia Week.

Tadaima Indonesia, I’m Back Home!”

Begitulah seru para pelajar Indonesia yang sedang menempuh ilmu di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) pada acara Indonesian Week 2017 yang diselenggarakan pada tanggal 26 hingga 30 Juni 2017. Kampus ini mempunyai acara yang sangat menarik bernama Multicultural Week, di mana setiap negara dapat memperkenalkan budaya negara mereka dalam waktu 5 hari dengan bermacam-macam aktivitas. Banyaknya murid internasional yang ada, membuat para mahasiswa yang berasal dari beda negara bersaing untuk memberikan satu minggu yang mengesankan. Memang bukan suatu ajang kompetisi, namun mahasiswa Indonesia selalu berusaha untuk memberikan kesan yang tak terlupakan bagi pengunjung setiap tahun.

Tahun ini mahasiswa Indonesia di APU mengambil tema “I’m Back Home”, di mana dalam satu minggu penuh mereka berhasil menyulap kampus yang terletak di Beppu, Oita, Jepang, menjadi bernuansa Indonesia. Dimulai dari variasi makanan di kantin kampus selama 5 hari yang menjual makanan Indonesia. Ada nasi goreng, mie goreng, es krim kelapa, tahu goreng isi dan bakwan sayur. Disusul dengan beragam acara yang ada. Indonesian Week 2017 melibatkan 490 mahasiswa APU, berisi 50 persen mahasiswa Indonesia dan 50 persen lainnya yang merupakan gabungan mahasiswa Internasional seperti Jepang, China, Uzbekistan, Taiwan, Amerika dan Vietnam.

Dibuka pada hari Senin, acara parade yang bertemakan Indonesia Time to Time berhasil membawa warga APU merasa layaknya sedang berada di Indonesia. Tari Papua berhasil memeriahkan jalannya acara dalam beberapa menit pertama yang dilanjutkan dengan Tari Abang None dan Mass Performance. Di dalam Mass Performance terdapat 3 pertunjukan yaitu Tari 80-90an, Music Performance dan Mass Dance. Ditengah-tengah pertunjukan, para performance membagikan bunga manggar kepada para penonton yang hadir sebagai buah tangan dari acara hari pertama tersebut.

APU dibuat ramai dengan membludaknya pengunjung pada acara Malioboro Night Festival pada hari kedua. Dibuatnya Market Festival dan Art Performance membuat Indonesian Week tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa di APU sendiri, melainkan pengunjung dari kota tersebut turut datang untuk melihat kemeriahan acara malam itu. Pengunjung bisa menyicipi mie instan terkenal di Indonesia, kue cubit dan pisang bakar, dan ada pula kedai warkop dengan ditemani penampilan tari dan musik dari murid APU.

Ada beberapa jenis permainan dengan hadiah gantungan kunci bermotif batik dan tulisan I Love Jogja. Kemeriahan terus berlanjut hingga penampilan band dari mahasiswa Indonesia yang membawakan bermacam-macam lagu Indonesia dan ditutup dengan salah satu yang paling khas dari Indonesia yaitu lagu dangdut. Malam itu Cafetaria APU terasa seperti Malioboro beneran loh, teman-teman.

Hari ketiga dilanjutkan dengan diadakannya acara permainan tradisional Indonesia yang dinamakan Jyuunana-an (dalam Bahasa Jepang) atau dalam Bahasa Indonesia disebut 17-an. Layaknya pada hari kemerdekaan di tanah air,  para murid membawa permainan yang biasa ada dalam acara 17 Agustus-an ke dalam acara yang satu ini. Ada  tarik tambang, balap karung, gobak sodor, SKJ dan ditutup dengan perang bola air. Para peserta yang bukan mahasiswa Indonesia, akan mendapatkan baju barong gratis dari panitia. Tujuan acara ini adalah untuk memperkenalkan salah satu tradisi rakyat Indonesia disaat hari kemerdekaan kepada seluruh warga APU.

Setelah merasakan keseruan 17-an di Indonesia, acara dilanjutkan dengan Seminar dengan tema “How Social Entrepreneurship Plays A Significant Role in Eradicating Poverty In Indonesia”.  Tidak hanya saling bertukar budaya dengan murid Internasional lainnya, panitia pun tak lupa untuk memberikan unsur edukasi dalam acara ini. Acara ini terbuka untuk umum, sebagaimana acara lainnya dilaksanakan. Pada kesempatakan kali ini, panitia mendatangkan 2 pembicara Marina Kusumawardhani yang merupakan founder dari Generation Social dan salah satu alumni APU, Dissa Ahdanisa, founder dari Fingertalk Café.

Hal mistis nan horor pun diperkenalkan juga dalam acara Indonesian Week setiap tahunnya. Hari berikutnya acara dilanjutkan dengan Thursday Tourday: the Haunted Islands of Indonesia. Di dalam rumah hantu ini, para pengunjung diajak untuk mengelilingi pulau yang ada di Indonesia yang “diramaikan” oleh karakter hantu yang sangat menyeramkan. Pengunjung akan ditemani oleh suara seorang perempuan yang menceritakan apa yang ada di setiap pulau dalam rumah hantu ini. Dengan lagu dan dekorasi yang mendukung, rumah hantu tersebut terasa sangat mencekam dan menyeramkan bagi para pengunjung yang mencoba rumah hantu tersebut. Tak jarang suara teriakan mahasiswa baik Indonesia maupun internasional terdengar di dalamnya.

Puncak acara yaitu sebuah Grandshow Indonesian Week yang berjudul “Ilusi” menjadi acara penutup Indonesian Week 2017. Acara yang dilaksanakan di APU Millennium Hall ini menjadi salah satu daya tarik warga Beppu untuk berkunjung ke APU. Para pengunjung rela mengantri 2 jam sebelum acara dimulai untuk bisa menyaksikan pertunjukan drama dengan diramaikan dengan 5 tarian, paduan suara dan band yang dikemas secara megah setiap tahunnya.

Malam itu, kurang lebih 800 kursi Millennium Hall terisi penuh oleh para penonton yang datang. Indonesian Week sendiri kedatangan tamu dari Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo, Alinda F.M. Zain (Atase Pendidikan dan Kebudayaan) dan Eko Santoso Junor (Minister Counsellor dari Fungsi Penerangan Sosial Budaya).  Salah satu perwakilan mahasiswa Indonesia yaitu Pandu Utama Manggala, Ketua PPI Jepang periode 2016-2017 juga datang untuk menyaksikan salah satu hasil karya mahasiswa Indonesia di Jepang.

Dari musim dingin hingga musim panas

Persiapan Indonesian Week sendiri dimulai dari September 2016, dimana pemilihan calon ketua Indonesian Week 2017 mulai dibicarakan antar mahasiswa Indonesia di APU.

“Dalam proses persiapan Indonesian Week baik persiapan secara finance dan hubungan kerja dengan perusahaan lain sendiri dimulai dari Desember ketika libur musim dingin dimana kita mulai mencari sponsor juga media partner dari Indonesia. Ketika kembali ke Jepang kami mulai mencari sponsor ke perusahaan Jepang. Untuk persiapan performance, para panitia selama libur musim dingin juga sudah memikirkan konsep konsep yang akan dipertunjukan.” jelas Sidney Adhika Halim selaku Ketua Indonesian Week 2017.

Penulis: Putri Nurdivi Djamil

Mahasiswa Universitas Ritsumeikan Asia Pacific

Magangers Kompas Muda Batch VII

Photos by: Documentation Indonesian Week 2017