Membatasi Diri dengan Menjadi Seorang Shopalogic

0
43
Ayu Gani, Chyntia Riza dan Kassandra Putranto menjadi pembicara dalam acara Wealth Wisdom yang diselenggarakan Bank Permata, di Jakarta, Rabu (2/8).

Banyak orang sering mengaitkan belanja dengan istilah hedonisme (kesenangan atau kenikmatan yang menjadi tujuan hidup manusia). Padahal, belanja memang sesuatu yang lumrah dilakukan oleh semua orang. Hal inilah yang mendasari talkshow “Your Choice: Shopaholic Vs #Shopalogic” yang diadakan Bank Permata dalam rangkaian acara Wealth Wisdom di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (02/08/17).

Dalam talkshow ini, hadir beberapa pembicara yang unggul dalam bidangnya, antara lain Ayu Gani (model), Cynthia Riza (istri penyanyi Giring Nidji), dan Kassandra Putranto (psikolog). Mereka menyampaikan pendapatnya mengenai perbedaan antara shopaholic, yaitu keinginan belanja yang tidak bisa dikontrol dengan shopalogic, belanja yang didasari oleh kebutuhan.

“Orang kalau stres, ya, makan. Kalau makan, berarti belanja. Itu yang sebenarnya menjadi cikal bakal seseorang menjadi shopaholic,” ujar Kassandra, seorang wanita yang telah berkecimpung di dunia psikologi selama kurang lebih 25 tahun.

Kassandra menuturkan, dalam dunia klinis, shopaholic berarti kecanduan belanja. Kecanduan belanja menjadi kecanduan yang paling awal, yang bisa merembet hingga kecanduan yang lain seperti kecanduan gawai, kecanduan bermain, hingga yang paling parah seperti kecanduan narkoba. Hal ini tentu saja harus dihindari karena jika tidak, dampaknya akan merugikan diri sendiri bahkan juga orang lain.

“Tinggi secara finansial bukan berarti kita bisa jadi shopaholic, loh,” lanjut Kassandra.

Setuju dengan Kassandra, Gani yang merupakan seorang model Indonesia berbakat yang memenangkan Asia’s Next Top Model siklus ketiga juga sudah diajarkan bagaimana menjadi seorang shopalogic sejak masih belia.

“Dulu, aku hanya diberi sedikit uang jajan oleh mama. Beda jauh dengan teman-temanku. Setiap aku mau membeli sesuatu, mama juga selalu menyadarkan bahwa itu bukanlah kebutuhanku,” tutur Gani.

Bagi Gani,  hidup dengan biaya hidup tinggi di London selama beberapa tahun tidak begitu masalah karena sudah terbiasa hidup berhemat sejak kecil.

Namun, hal itu dirasakan sangat berbeda oleh Cynthia Riza. Ketika masih kecil, justru Cynthia merasa sangat dimudahkan hidupnya oleh kedua orang tuanya. Setiap keinginannya mampu dipenuhi. Menjadi seorang shopalogic baru dirasakannya sejak berkeluarga dan memiliki anak. “Lebih banyak yang harus diprioritaskan daripada belanja yang menuruti keinginan sendiri,” ujar Cynthia.

Suasana di dalam Ballroom. Foto : Gregorius Aldi

Yang menjadi masalah bagi sebagian besar orang adalah membedakan mana yang kebutuhan, dan mana yang hanya sekadar keinginan semata. “Kebutuhan adalah sesuatu untuk kamu bisa survive hidup,” ungkap Gani. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengenali diri sendiri dan mengenali apa yang menjadi kebutuhan kita.

Penulis : Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Gregorius Aldi / Magangers Kompas Muda Batch VII