Board Game, Permainan yang Lebih dari Sekadar Hiburan

0
83
Board Game Library, Solo, Jawa Tengah. Foto: Kompas/Erwin Edhi Prasetya

Ichsan Maulana, Djoyo Marsiono, Wiwik Sri Rejeki dan Fanny Chotimah ada di antara puluhan orang yang hadir pada playday board game Celebes dan Candrageni  di Board Game Library Solo. Pada hari yang sama,  dua board game hasil karya para pemenang Kompas Ring of Fire Board Game Challenge itu, juga dimainkan di empat kota lainnya yakni Jakarta (Arcanum Hobbies), Bandung (Shuffle Board Game Library), Yogyakarta (Dakon Board Game Library), dan Surabaya (Tabletoys Board Game Store & Library).

“Board game itu mengingatkan saya pada nostalgia zaman kecil dahulu. Zaman sebelum ada gadget. Mengingatkan keseruan dan rasa kehangatan dalam bermain. Karena menurut saya board game lebih asik dimainkan ramai-ramai ya,” kata Fanny Chotimah, yang malam itu datang bersama keluarga.

“Apalagi game Celebes sangat edukatif. Selain mengenalkan sosok Alfred Wallace, mengenalkan juga langkah-langkah kerja peneliti secara tak langsung. Seperti mengumpulkan spesimen serangga dan binatang lain. Kita yang bermain jadi mengenal berbagai bentuk beragam fauna di Celebes. Kita harus berstrategi untuk menentukan jalur penelitian kita. Sedangkan di Candrageni, saya seolah-olah berada di zaman Mataram dan membangun candi, menggunakan uang kita atau sumber daya alam yang kita punya,” tambah Fanny.

Hal senada disampaikan Wiwik Sri Rejeki yang juga datang bersama keluarga. “Ketika bermain board game, anak-anak jadi lupa kalau ada gadget, selain itu gamenya asik, bisa menambah pengetahuan tentang hewan-hewan yang hidup di sana, dan jadi tahu tentang penelitian hewan seperti apa. Ya, semoga board game Indonesia selanjutnya juga bisa mengedukasi meskipun hanya mengenalkan satwa karena bagus untuk dimainkan anak-anak,” kata Wiwik.

“Board game permainan yang bagus, Lebih dari sekadar lebih dari hiburan,” kata Djoyo Marsiono.  Menurutnya bermain sama dengan belajar. Board game adalah simulasi suasana kehidupan, ada peraturan (rules), ada masalah dan tantangan, ada kerjasama tim maupun kompetisi. Djoyo bahkan tak hanya menjadi pelanggan Board Game Library. Secara periodik, ia juga mengoleksi berbagai jenis board game.

“Saya membeli board game rata-rata sebulan satu. Karena koleksi pribadi agak ketinggalan, kadang beli dua,” kata Djoyo Marsiono. Tema, mekanik, kualitas komponen dan artwork yang menarik adalah alasan utama bagi Djoyo dalam membeli board game.

Tak hanya memainkan dua game tersebut, para pengunjung juga sangat antusias memainkan game game lain koleksi Board Game Library Solo. Seperti Ichsan yang datang bersama empat temannya  Rifqi, Surya, Miranda, dan Yurike. Mereka memilih memainkan Fold It, game sederhana yang mengasah logika dengan cara melipat kain untuk membuat berbagai menu masakan.

“Aku sengaja mengajak mereka main, karena dengan board game kita bisa lebih mengenal dan mendekatkan diri satu sama lain dan belajar mengasah skill berpikir kita maupun skill sosial kita,” kata Ichsan, yang telah menjadi pelanggan setia sejak Board Game Library buka.

“Dari board game kita bisa belajar dan berlatih banyak hal tergantung dari jenis game yang dimainkan. Analisa matematis, ketepatan dan kecepatan, decision making dan analisa strategis. Namun manfaat yang selalu ada pada setiap game adalah belajar untuk berinteraksi dengan pemain lain, belajar menganalisa dan berkomunikasi dalam segala bentuk komunikasi, baik verbal dan non verbal,“ tambah dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ini.

Mereka berlima terlihat sangat menikmati berbagai gamenya dan interaksi di dalam permainannya. Selain Fold It, mereka juga mencoba beberapa game lain yang ada di Board Game Library.

 

Penulis

Erwin Skripsiadi, pegiat komunitas board game di Solo