Kehidupan di Pertemuan Ketiga

0
19
Suasana pintu masuk Kuburan Belanda, Petamburan, Jakarta. Foto: Gregorius Bernardino Saragih

Mentari mengangkat dirinya hingga menyinari kami di ruang diklat lantai 5. Hari ketiga dari kegiatan magang mulai, kegiatan pertama magangers dipisah sesuai keahlian masing-masing. Jurnalis senior Kompas membawaka materi tiap bidang dengan seru, hadiah suvenir dari Kompas juga sangat mengundang antusiasme magangers untuk bertanya.

Kalau kata orang ‘malu bertanya sesat di jalan’ , tadi ‘malu bertanya enggak dapet topi’. Pemberian materi berlangsung hingga tak terasa jarum jam menujukkan angka 12 siang. Saatnya makan siang, kegiatan makan bersama ala magangers batch 9 yang rindu masakan rumah membuat beberapa magangers buat makan terus.

Kegiatan yang ditunggu magangers pun tiba. Liputan langsung di lapangan. Kelompok kita secara keajaiban dapet kesempatan meliput Taman Makam Umum Petamburan, Jakarta Pusat. Untuk pertama kalinya, Kompas memasukkan TPU Petamburan jadi tempat liputan magangers, yeay. Kelompok kita mendapat kesempatan spesial untuk meliput makam yang ada sejak masa penjajahan Belanda ini. Sebelum berangkat, fotografer kelompok kita agak kurang senang.

“Itu kuburan cuy. Ada yang mau tuker sama kelompok gue gak?,” kata dia pas tahu hasil undian penentuan tempat liputan.

TPU Petamburan berjarak sekitar 1 kilometer dari kantor Kompas. Perlu naik angkot M09 atau M11 agar sampai ke TPU Petamburan. Setiba di sana, kami langsung menghadap ke kantor administrasi dari TPU Petamburan. Pihak Dinas Pemakaman sangat ramah kepada kami, kami diajak berkeliling lingkungan makam.

Bapak Rizky selaku asisten kasat TPU Petamburan menjelaskan bahwa jenazah di tempat ini diperuntukan untuk umat beragama non-Muslim. Kurang diketahui pasti alasan pemda menetapkan kebijakan demikian. Di bagian belakang makam, banyak makam yang keadaannya kurang terawat, bahkan ada yang sampai sudah dibongkar menjadi makam baru.

TPU Petamburan saat ini statusnya masih sebagai taman pemakaman aktif, namun begitu tempat ini memiliki daya tarik wisata tersendiri. Banyak tempat di Jakarta dan kota-kota lainnya yang memiliki tempat wisata peninggalan sejarah yang masih kurang mendapat perhatian mudaers. Kehadiran tempat perbelanjaan, dan cafe yang menjamur di kota besar mematikan tempat-tempat bersejarah yang ada di balik pagar beton. Tempat bersejarah kalah pamor. Yang akhirnya, bisa membuat tempat bersejarah di digusur menjadi lokasi baru. Kapan mudaers terakhir ke tempat bersejarah?

Gregorius Amadeo

Magangers Kompas Muda Batch IX

Siswa SMA Regina Pacis Bogor