Wajah Desaku Kini

0
77
Kompas/P Raditya Mahendra Yasa

Hari raya Idul Fitri merupakan momen yang pas untuk berkumpul bersama keluarga. Terbukti ketika menjelang Idul Fitri tiba, masyarakat Indonesia berbondong-bondong pulang ke kampung halaman atau mudik. Termasuk saya.

Setelah Idul Fitri usai, orang-orang kembali ke perantauan masing-masing. Bahkan tak jarang membawa sanak saudara yang baru lulus sekolah ke tempat perantauan. Bayangan kesuksesan dan pekerjaan dengan gaji tinggi ketika di perantauan menjadi alasan para siswa fresh garduate pergi dari tanah kelahiran.

Keadaan tersebut berlaku juga bagi daerah asal saya di Provinsi Jawa Barat. Mayoritas masyarakat desa merupakan petani. Tetapi jumlah petani mengalami penurunan. Para orangtua mengeluh lantaran anak muda sekarang lebih memilih menjadi buruh atau menjadi TKI di luar negeri ketimbang menjadi petani. “Saiki angel nggoleki wong nom dadi tani, sebab luwih seneng kerja teng pabrik,” begitulah keluhnya.

Keadaan tersebut sejalan dengan data BPS yang menunjukkan jumlah petani mengalami penurunan dalam kurun waktu 2003-2013. Rumah tangga petani di Indonesia pada 2003 berjumlah 31,32 juta, dan menurun menjadi 26,14 juta pada 2013. Beberapa faktor penyebab penurunan seperti meninggal dan pekerja pindah ke sektor lain lebih besar daripada para petani baru.

Menurut Ngadi dalam opininya di Harian Kompas yang berjudul Pangan dan Regenerasi Petani sektor pertanian tidak memberikan jaminan kehidupan yang layak bagi pekerja. Anak muda lebih memilih pindah ke sektor lain karena lebih menjanjikan secara ekonomi.
Melihat kondisi seperti ini, kadang saya beranggapan program yang dijanjikan Pak Jokowi di masa kampanyenya tentang penanggulangan kemiskinan petani dan regenerasi petani gagal. Karena sebagian besar orang tua para pemuda yang merantau adalah petani, mereka merantau agar kondisi ekonomi lebih baik.

Imbasnya produktivitas pertanian menurun, karena tetap orang tua berumur 40-45 tahun ke atas yang mengelola pertanian. Lalu juga petani-petani baru tak lahir, lantaran anak muda lebih memilih menjadi buruh atau menjadi kaum urban ke kota yang di mata mereka lebih menjanjikan secara ekonomi.