Asam Manis Cerita Wartawan Amatir

0
29
Kompas/Suhartono

Profesi wartawan tampak sangat hebat di mataku. Bagaimana tidak, sebelum masyarakat mengetahui sebuah kejadian, informasi, atau isu, wartawan pasti jadi orang pertama yang tahu dan ‘mengejar’ informasi tersebut untuk disebarkan ke khalayak banyak.

Hebat yang kedua, wartawan bisa berbicara dengan siapa saja, dari semua kalangan, strata sosial, suku, daerah, bahasa, dan budaya. Mereka bisa jadi terlibat obrolan seru dengan tokoh politik, perbincangan hangat dengan seseorang kaya prestasi dan inspirasi, atau cerita hebat dari tokoh legedaris kaya perjuangan, bahkan wawancara eksklusif dengan orang penting dan ‘menantang, presiden misalnya, atau narapidana sebuah kasus besar misalnya.

Tangan mereka luwes menulis, mata mereka gemar menekuri bacaan dan riset, otak yang terus terasah untuk meramu bahan jadi tulisan berkesan sarat pesan. Jadi wartawan pun mesti peka terhadap segala sesuatu, isu yang berhembus, hal yang ramai diperbincangkan, atau akibat dari sesuatu yang sedang marak di masyarakat. Wartawan punya intuisi cemerlang, tahu bagian paling ‘rahasia’ yang mesti digali untuk mendapatkan info-info berharga.

Dari kesekian alasan, itulah mengapa aku ingin jadi wartawan. Apalagi kalau wartawan yang ditugaskan ke daerah-daerah konflik, atau tempat-tempat budaya, suku-suku pedalaman, mencari bahan-bahan eksklusif untuk dijadikan bahan membuat ramuan bernama tulisan. Lantas, mulailah aku mengikuti diklat-diklat jurnalistik. Mencoba menulis amatir melalui sebuah media independen buatan mahasiswa. Mengawal aksi-aksi mahasiswa dan menuliskannya dalam berita. Ikut hadir saat aksi Hari Buruh, Hari Kebebasan Pers Internasional, aksi peringatan Hari Sumpah Pemuda, aksi hari Kebangkitan Nasional, aksi mahasiswa yang meluruk rektorat lantaran tak setuju atas kebijakan tertentu. Beberapa kali pula ikut hadir dalam diskusi bersama organisasi-organisasi jurnalis macam PWI atau PMII. Berkumpul bersama jurnalis senior, ‘membaca’ apa yang mereka bicarakan, dan memasukkannya sebagai bekal dan pengalaman.

Beberapa kali aku membolos kuliah demi liputan. Salah satunya, saat orang nomor satu di Indonesia hadir di kotaku untuk mengunjungi sebuah desa atau saat pelaksanaan pertama kalinya Ujian Nasional Berbasis Komputer SMA. Pun ketika ada tokoh nasional yang hadir ke kampusku untuk menjadi pembicara pada kegiatan tertentu. Bagiku, kesempatan seperti ini tak mesti hadir dua kali. Sementara, mata kuliah yang kutinggalkan bisa kukejar dengan cara lain. Agak nakal memang.

aku pernah mengalami badanku ‘diangkat’ oleh ajudan Dahlan Iskan saat beliau bertandang ke kampusku

Pengalaman kudapatkan sebagai seorang jurnalis amatir. Misalnya ketika aku ‘nekat’ mengikuti rute kunjungan presiden ke kotaku. Aku benar-benar tak tahu kalau untuk bisa meliput presiden, aku harus punya kartu pers khusus dari pasukan pengamanan presiden di samping kartu pers dari mediaku. Cerobohnya, aku tak berusaha mencari tahu lebih dulu informasi tentang hal paling penting ini di hari-hari sebelumnya. Kalau ingat-ingat, malu dan bodoh rasanya. Aku hanya bisa tertawa. Tapi, ini mengajarkanku untuk selalu mencari informasi sebelum melakukan sesuatu, terutama liputan. Bukankah memang itu ruh wartawan?

Kedua, aku pernah mengalami badanku ‘diangkat’ oleh ajudan Dahlan Iskan saat beliau bertandang ke kampusku. Selepas doorstop di pintu gedung yang dipakai kegiatan, aku masih ingin mengajukan satu pertanyaan. Pertanyaanku memang kalah hebat dari wartawan-wartawan senior saat doorstop tadi. Apalagi fisikku yang kurus tak sebanding dengan berjubelnya wartawan yang saling menodongkan recorder¸ HP, mikrofon, dan kamera-kamera besar yang seliweran di depan wajahku. Oleh karenanya, begitu perlahan kerumunan wartawan mulai berkurang, aku berusaha menarik perhatian dan mengikuti langkah Pak DI. Alhasil, karena beliau memang sudah akan masuk mobil, tiba-tiba saja aku merasa ada tangan besar yang menggenggam kedua lengan atasku, lalu menggeser tubuhku sedikit agar menjauh dari Pak DI. Kalau ingat itu, aku hanya bisa tertawa.

Pernah juga aku wawancara dengan menteri pertahanan RI beberapa tahun lalu. Aku menyusun pertanyaan saat beliau berbicara di podium. Lantas, aku dan puluhan wartawan senior lain pun bersiap di pintu masuk ketika beliau selesai memberikan orasinya, bersiap doorstop. Tapi, begitu aku berada di posisi strategis, di depan menteri langsung, aku malah blank dengan daftar pertanyaan yang sudah kususun dan siap kuajukan. Jadilah aku merekam saja pertanyan-pertanyaan yang diajukan wartawan lain.

Di lingkup internal, aku pernah menulis tentang protes aliansi mahasiswa dari salah satu suku di Indonesia yang kegiatannya di kampusku dibubarkan. Menulis hal-hal semacam ini mengorek keberanian lebih dari dalam diriku. Bagaimana tidak, aku menulis sesuatu yang di dalamnya menuai kritik dari mahasiswa untuk kampus. Bagaimana kalau tulisanku ini berbahaya untuk nasibku sendiri? Seringkali hal-hal seperti itu menghantui. Contoh lainnya, aku mengawal saat beberapa mahasiswa meluruk kantor bagian akademik dan melakukan ‘protes’ atas dugaan kesalahan sistem saat melakukan pemrograman mata kuliah. Mediaku jadi media yang ditunjuk untuk mengawal puluhan mahasiswa ini, dan aku kebetulan jadi wartawan yang diminta mengawal mereka dan menuliskan beritanya. Posisinya, aku mahasiswa juga. Riskan sekali rasanya.

Tapi, dari situlah aku belajar berani dan objektif. Bahwa apa yang kutulis, asalkan tak menyudutkan satu pihak tertentu, faktual, dan berimbang, tentu tak akan menjadi masalah. Meski, jurusan kuliah yang kujalani dengan passion menjadi wartawan seringkali menjadi pertanyaan bagi sebagian besar temanku, tapi aku tetap berusaha menjalani keduanya dengan seimbang. Namanya juga mimpi, siapa saja berhak memperjuangkannya, bukan? Sampai saat ini pun, aku masih berjuang dan menapaki batu demi batu loncatan untuk menjadi jurnalis berintegritas, profesional.