Kamus Sahabat Kita

0
23
Kiri ke kanan: Wakil Dekan 1 Fisip Unpad Dr. Santoso Tri Raharjo, Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dan Yulianti M.Ikom Ketua Forum Pustakawan dan Pengelola Perpustakaan Unpad.

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar kata perpustakaan? Ketika kita mendengar kata tersebut, terbayang oleh kita sebuah ruangan persegi panjang yang sedikit luas, penuh dengan rak-rak berisi buku,  pengap dan kurang cahaya.

Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari seorang pustakawan atau yang lebih dikenal sebagai penjaga perpustakaan. Profesi pustakawan itu belum diakui karena tidak adanya pendidikan profesi pustakawan sehingga tugas pustakawan selama ini dikira hanya menjaga buku, melayani peminjaman dan pengembalian buku, serta menata kembali buku ke dalam rak. Benar memang tugas seorang pustakawan adalah seperti itu. Namun, kini pustakawan tidak hanya bertugas seperti itu saja. Seorang pustakawan juga dapat menuangkan ide, inovasi maupun kreativitas dalam sebuah tulisan.

Universitas Padjadjaran (Unpad)  sejak 2014  bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional RI. Bahkan pernah dilaksanakan sebuah Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pustakawan Tingkat Ahli di Perpustakaan Pusat Unpad di Jalan Dipati Ukur No. 46 Bandung. Berdasarkan data tahun 2014, Unpad hanya memiliki 13 Pustakawan yang tersebar di sejumlah fakultas dan perpustakaan pusat. Berselang tiga tahun, apa kabar para pustakawan Unpad?

Unpad yang memiliki pustakawan dan pengelola perpustakaan yang tersebar di berbagai fakultas rupanya setiap tiga bulan  mengadakan pembinaan untuk melatih pustakawan dan pengelola perpustakaan Unpad dalam mengelola sebuah acara atau event organizer. Forum yang diadakan setiap tiga bulan sekali.

Pada Senin forum itu digelar lagi dengan tema Public Speaking and Presentation Skills di  Gedung A lantai 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unpad, Jatinangor, Sumedang. Ada 30 orang pustakawan dan pengelola perpustakaan Unpad dari berbagai fakultas yang datang. Mereka mengenakan baju batik berbagai motif.

Forum ini dihadiri juga oleh Wakil Dekan 1 Fisip Unpad Santoso Tri Raharjo dan Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Budi Setiabudiawan. Menurut Santoso, harus ada apresiasi yang jelas untuk para pustakawan dan pengelola perpustakaan Unpad agar dapat mengelola seluruh perpustakaan yang ada di Unpad. Santoso berharap di FISIP ada yang mengelola dan menggarap perpustakaan secara khusus sehingga fungsinya bisa meningkat.

Budi Setiabudiawan menambahkan, para pustakawan agar selalu menjunjung tingkat profesionalisme sebagai pustakawan dalam segala hal dan jangan memikirkan kum. Sebab jika memikirkan kum, usaha profesionalisme tersebut tidak akan di dapatkan. Budi pun menyampaikan kabar gembira bahwa Rektor Unpad Tri Hanggono menyetujui usulan untuk berlangganan jurnal internasional.

“Sudah keluar peraturan rektor tentang jurnal, buku, dan lain-lain. Kita juga sudah mendapatkan Persetujuan rektor tentang jurnal internasional sehingga kita dapat berlangganan 5 jurnal dan e-book. Bahkan web perpustakaan secara original,” ungkap pria yang memakai batik bercorak burung tersebut.

Budi berharap  dengan  dimulainya berlangganan jurnal maupun e-book,  pustakawan Unpad dapat menjadi pelopor untuk pustakawan lainnya. Ia juga berharap  forum ini dapat menjadi sebuah pertemuan ilmiah tahunan pustakawan dan pengelola Unpad tingkat nasional.

Jika diibaratkan ember, ketika ember kita kosong maka kita tidak dapat menuangkan apa pun. Sama halnya dengan menulis, jika kita tidak mengisi otak dengan membaca,  kita akan sulit menuangkan apa pun ke dalam tulisan

Untuk meningkatkan kesadaran menulis para pustakawan,  diadakanlah sebuah Forum Pustakawan dan Pengelola Perpustakaan Unpad pada Senin lalu. Forum yang dikhususkan bagi pustakawan dan pengelola perpustakaan Unpad ini memiliki tiga sesi acara, salah satunya  Tip & Trik Menulis Artikel oleh Yulianti, pustakawan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad sekaligus  pustakawan berprestasi tingkat Nasional  2013 DIKTI.

Yuli begitu akrab disapanya, sebelum menyampaikan materinya, ia menceritakan pengalaman pribadinya yang berhubungan dengan tulis menulis. Saat pertama kali tulisannya dipublikasikan satu media cetak, ia mendapat bayaran Rp 45.000. Yuli menjelaskan pertama yang harus ditaati ketika ingin menulis adalah latar belakang. Latar belakang yang dimaksudkan yaitu apa yang ingin ditulis, jenis tulisan seperti apa yang diinginkan, jenis pempublikasian seperti apa yang ingin dituju, dan kenali biografi penulis terkenal.

“Saya ingat sebuah quotes dari seorang penulis yang bunyinya, ‘ikatlah ilmumu dengan menulis. Tapi hal yang paling penting di antara semuanya adalah pengalaman membaca’. Jika diibaratkan ember, ketika ember kita kosong maka kita tidak dapat menuangkan apa pun. Sama halnya dengan menulis, jika kita sebelumnya tidak mengisi otak kita dengan membaca, maka kita akan sulit menuangkan apa pun dalam tulisan.”

Selain memberikan sebuah latar belakang, Yuli pun memberikan tip khusus untuk memulai menulis, yakni mencari tahu objek yang disukai agar lebih memudahkan ketika menulis, membaca dari berbagai sumber seperti majalah maupun jurnal, memahami fenomena yang ada di hati maupun kepala, cari literatur tambahan dan diskusikan, tip khusus terakhir segera kirim tulisan tersebut ke media apapun yang ingin dituju.

“Ketika kita ingin menulis, jadikanlah kamus sebagai sahabat kita. Kamus adalah sumber inspirasi kata-kata ilmiah yang ingin kita tangkai,” saran Yuli.

Penulis

Dwi Putri Iftihar Asror, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran