Tak Hanya Sekadar Desain, tetapi Memiliki Arti

0
136
Helman memberikan penjelasan mengenai perkembangan logo dari masa ke masa.

 Logo yang dimiliki oleh sebuah brand akan dengan mudah tertanam dalam benak masyarakat, apabila desainnya mempunyai daya tarik yang kuat. Dibalik desain sebuah logo, ada makna tersembunyi yang belum tentu akan diketahui oleh masyarakat. Kompas Corner mengadakan sebuah workshop dengan tema “Placing the ‘Philosophy’ in Logo” dalam rangkaian HUT Kompas Corner yang ke – 4, di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Selasa (02/05).

Helman Taofani, selaku Advertising Production Manager Harian Kompas, membagi berbagai tips kepada para peserta workshop agar dapat membuat logo yang memiliki filosofi dari aspek komposisi, warna dan pesannya.

Logo merupakan salah satu bentuk komunikasi yang cukup tua, tetapi masih digunakan sampai saat ini. Semua bisnis atau perusahaan akan menggunakan logo sebagai visual identity. Seiring dengan berjalannya waktu, desain logo tidaklah rumit lagi. Logo dibuat dengan sangat simpel, agar mudah dikenal oleh masyarakat.

Ada beberapa tahap perancangan logo yang ideal, seperti design brief, research, reference, concepting, maturing dan presentation. Riset merupakan tahapan yang paling penting, karena logo akan berhubungan dengan cerita atau sejarah yang ada di balik proses pembuatannya. Cara lain untuk membuat logo adalah dengan membedah tagline yang telah disepakati oleh perusahaan. Hal tersebut dapat menjadi acuan untuk merancang sebuah logo.

Logo memiliki tiga komponen, yaitu logogram, logotype dan tagline. Dalam mendesain sebuah logo, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah pengaplikasian komposisi. Jarak antar tulisan dan bentuk yang digunakan, akan memiliki arti tersendiri. Misalnya, bentuk persegi panjang, biasanya digunakan untuk perusahaan yang sudah terpercaya atau sudah mapan. Komposisi dapat menjadi faktor penentu, apakah sebuah logo dapat menarik perhatian masyarakat atau tidak. Selain komposisi, warna dan pesan yang sederhana juga merupakan faktor yang tidak bisa dilupakan.

“Yang harus diingat dalam membuat logo adalah  buatlah logo untuk masyarakat, bukan hanya untuk satu client saja. Jangan sampai masyarakat gagal untuk memahami arti logo tersebut,” ujar Helman dalam workshop-nya.

Helman Taofani berfoto dengan seluruh peserta workshop.

Setelah pemberian materi, peserta diberikan waktu untuk mencoba membuat logo, dengan memilih satu dari lima tema yang sudah disediakan untuk diperlombakan.

Workshop ini ditutup dengan pemberian hadiah kepada pemenang lomba logo dan sesi foto bersama.

 

Reporter: Laura Felicia

Editor: Herlina Anace Yawang

Fotografer: Stephanie Sugiharto