Memetik Makna dari Keberhasilan Creativepreneur

0
495
TEDxUniversitasPrasetiyaMulya membagi rangkaian seminar ke dalam lima sesi dan setiap sesinya dibawakan oleh lima pembicara yang berbeda-beda pula. Keunikan inilah yang menjadi daya tarik bagi peserta.

SERPONG, KOMPAS CORNER – Acara di Sabtu pagi tak berarti sepi. Pada tanggal 25 Maret 2017, sekitar seratus peserta bersama dengan puluhan panitia memadati auditorium di Gedung PMBS, Universitas Prasetiya Mulya, untuk mengikuti seminar TEDx. Pada acara yang pertama kali diadakan ini, panitia mengundang lima pembicara untuk berbagi pengalaman dan pikiran. Kelima pembicara tersebut Ali Zaenal Abidin, Asep Kambali, Leo Chris, Isabella Harefa dan Marcus Tan.

Yang menarik dari seminar ini, meskipun kelima pembicara membawa topik yang berbeda, namun ada satu benang merah yang dapat ditarik, yaitu tentang bagaimana kita membuat hidup kita menjadi bermakna. Baik bermakna bagi diri kita sendiri atau bagi orang lain.

Sebagai pembicara pertama, Ali Zaenal Abidin meninggalkan kesan yang mendalam di akhir materinya. Ali, seorang konsultan dan fasilitator di bidang passion dan tujuan hidup menjelaskan tentang pentingnya mengetahui tujuan hidup. Di akhir materinya, Ali meminta agar kita mengisi hidup kita dengan hal-hal yang berguna.

“Ketika kalian sudah temukan tujuan hidup kalian, jalani itu,” kata Ali menutup seminarnya.

Ali Zaenal mengawali pemberian materi pada seminar TEDxUniversitasPrasetiyaMulya dengan sangat bersemangat.

Setelah membakar semangat para peserta untuk mengetahui tujuan hidupnya, seminar dilanjutkan oleh pembicara kedua, Asep Kambali. Asep, seorang sejarawan dan historypreneur membuka seminarnya dengan menanyakan nama pahlawan yang tertera dalam uang pecahan sepuluh ribu yang baru. Dengan apik, Asep membawa topik sejarah menjadi suatu yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi para peserta. Justru, Asep berhasil mengingatkan kembali tentang sejarah bangsa Indonesia dan betapa pentingnya sejarah sebagai pemersatu bangsa.

Pembicara yang kedua, Asep Kambali, sedang memperkenalkan dirinya kepada para peserta.

Pembicara ketiga adalah Leo Chris. Lulusan summa cumlaude Universitas Pelita Harapan (UPH) jurusan Manajemen ini adalah seorang fotografer boneka. Menggeluti bidang yang tak lazim, Leo berpesan agar kita tidak minder dan terus percaya diri dengan hobi kita. Ia mengatakan bahwa dengan fotografi kita bisa merepresentasikan banyak hal, dari kreativitas, kebudayaan, hingga identitas diri.

“Kalau hobi kita memberikan dampak positif, jangan pernah ragu untuk mengikuti,” pesan Leo menutup seminarnya.

Leo Chris memberikan dukungan kepada para peserta untuk terus melakukan apa yang mereka sukai selagi hal tersebut membawa dampak positif.

Coffee break selama lima belas menit diberikan moderator setelah pembicara ketiga menutup seminar. Pada kesempatan ini, peserta diperbolehkan untuk ke toilet atau memakan makanan ringan. Sebelum dan sesudah coffee break, panitia memutarkan video dari situs www.ted.com tentang cerita-cerita inspiratif yang masih berkaitan dengan seminar hari itu.

Isabella Harefa menjadi pembicara keempat, sekaligus satu-satunya pembicara wanita pada seminar kali ini. Isabella adalah seorang pendiri Koperasi KASIH Indonesia di kawasan Cilincing, Jakarta Utara. Pada kesempatan ini Isabella menyampaikan satu pesan penting mengenai cara membantu orang miskin. Ia mengatakan yang harus diubah adalah pola pikir dari masyarakat. Untuk membuat masyarakat terbiasa menabung, kita tidak bisa serta merta hanya memberikan suntikan dana, melainkan kita harus memberikan pengertian mengapa menabung itu penting. Kita harus mengubah pola pikir dari masyarakat itu sendiri. Ia mengatakan, dengan mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih baik, kita dapat memberikan dampak jangka panjang dari bantuan kita.

Isabella Harefa, satu-satunya pembicara perempuan yang juga ikut berkolaborasi di dalam rangkaian seminar TEDxUniversitasPrasetiyaMulya.

Sebagai penutup, ada Marcus Tan yang berkecimpung di bidang teknologi dan desain. Berbicara dalam Bahasa Inggris yang kental dengan aksen Singapura, Marcus menjelaskan bagaimana masyarakat sekarang terperangkap dalam “zona nyaman” dan bagaiman hidup hanyalah sebuah “check list”. Marcus mengatakan, sebagai generasi muda kita haus berani keluar dari zona nyaman dan mengikuti apa yang betul-betul kita minati. Keberanian adalah hal mendasar yang diperlukan untuk dapat keluar dari zona nyaman.

Sesi terakhir rangkaian seminar ditutup oleh Marcus Tan yang berbicara tentang keberanian yang harus ditingkatkan pada generasi masa kini.

TEDxUniversitasPrasetiyaMulya ditutup dengan pemberian plakat kepada para pembicara dan foto bersama seluruh peserta. Acara di Sabtu pagi itu pun usai dengan harapan memberikan nilai-nilai dan makna yang dapat dipetik oleh peserta untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Penulis: Patricia Felita

Fotografer: Nathanael Pribady

Editor: Edwin