Mengintip Masa Depan di ”Markas Besar” Samsung

0
401
Seorang pengunjung memainkan alat interaktif di bawah kubah besar dengan layar yang menayangkan penjelasan tentang teknologi di Museum Inovasi Samsung, Kota Suwon, Korea Selatan, akhir Juli 2016. Di museum itu, pengunjung bisa melihat berbagai replika penemuan sejak beberapa abad lalu hingga alat elektronik mutakhir. Kompas/Dwi Bayu Radius (BAY) 03-08-2016

Bayangkan masa depan dengan perangkat teknologi yang mendukung peradaban bak dikisahkan dalam film fantasi. Manusia dibuat nyaman dengan sejumlah alat yang memudahkan kehidupan. Secercah gambaran itu menjadi nyata di kantor pusat korporat raksasa dunia, Samsung.

Tekan tombol dari telepon seluler (ponsel) dan powerbot akan bergerak membersihkan lantai. Instruksi lain diberikan, mesin cuci mulai membilas pakaian. Semua itu dilakukan hanya dengan menggenggam ponsel, sementara penggunanya duduk santai di kursi malas sembari menonton televisi.

Di kantor pusat Samsung, Suwon, Korea Selatan, akhir Juli lalu, pengunjung dibuat takjub. Tak cuma membersihkan, kenyamanan rumah pun bisa dikontrol dengan sentuhan jari. Saat cuaca panas, konsumen yang sedang dalam perjalanan pulang dapat menghidupkan pendingin udara.

Saat tiba, hawa di rumah pun terasa sejuk. Lampu, tirai, kamera pengawas, alarm, hingga pintu rumah juga bisa diaktifkan dengan perintah melalui internet. Di Museum Inovasi Samsung yang menjadi bagian dari ”markas besar” korporasi itu, bahkan kulkas terlihat sudah tersambung dengan internet.

Layar sentuh yang terpasang pada pintu kulkas tipe Family Hub itu juga bisa menayangkan siaran televisi. Kaum ibu dan koki tentu terbantu dengan resep dan tips memasak dari Club des Chefs, klub tujuh koki ternama kaliber internasional, yang tersedia berkat sambungan jaringan internet dengan kulkas.

Sambil memasak atau menunggu makanan matang, mereka bisa menonton televisi. Layar kulkas bahkan dapat menampilkan harga bahan baku makanan terbaru. Suhu di dalam kulkas dan di luar rumah bisa dipantau. Pesan belanjaan lewat internet juga bisa dilakukan dari dapur.

Lain lagi dengan rangkaian perangkat elektronik di ruang yang ditata seperti kelas di Samsung D’Light, Seoul, Korsel. Layar besar terkoneksi dengan komputer tablet, sehingga guru bisa menerangkan sambil mentransfer pelajaran langsung kepada murid. Murid pun tak harus selalu menatap ke depan.

Mereka cukup memperhatikan layar tabletnya. Uniknya, jika murid mengobrol atau menyalakan permainan video, guru bisa mengganti layar tablet lalu muncul perintah untuk diam dan memperhatikan pelajaran. Sistem edukasi itu sudah diterapkan di ribuan lembaga pendidikan di dunia.

Jika itu belum cukup mengesankan, alat-alat interaktif yang futuristik akan menimbulkan decak kagum. Inovasi membuat Samsung D’Light menjadi arena bermain dan belajar dengan format masa depan yang menyenangkan. Sebuah alat, misalnya, mampu menerka kepribadian berdasarkan muka pengunjung.

Alat itu memotret dan menampilkan raut wajah pengunjung di layar televisi berikut sifatnya. Pengunjung tertawa. Permainan lain, yakni menciptakan tata surya, planet, dan makhluk yang diinginkan pada sebuah layar besar.

Selain itu, alat realitas virtual Mr VR tidak hanya mampu menimbulkan sensasi video dan audio, tetapi juga gerakan. Sementara Tiptalk membuat penggunanya bisa mendengarkan suara dari perangkat elektronik pintar dengan menempelkan jari di kuping tanpa bantuan kabel.

Berbagi pengalaman

Direktur Tim Komunikasi Korporat Samsung Electronics Soo Lee mengatakan, tujuan dari Samsung D’Light dan Museum Inovasi Samsung adalah berbagi pengalaman dan melihat visi Samsung terhadap masa depan. Terutama bagi generasi muda, berkunjung ke tempat itu bisa menjadi pembelajaran.

Sistem otomatisasi alat elektronik yang diperagakan di kedua tempat itu disebut smart homeatau hunian cerdas. Samsung Electronics sudah menyediakan produk hunian cerdas melalui pengalaman panjang sebagai perusahaan yang banyak makan asam garam dengan usia hampir 50 tahun.

Keperkasaan Samsung Electronics bertahan dan memiliki proyeksi produk untuk masa depan didukung lebih dari 325.000 pegawai. Sekitar 36.900 orang dari jumlah itu berpendidikan doktor dan master. Karyawan itu tersebar di 80 negara. Samsung Electronics memilki 38 pabrik di dunia.

Sekitar 1.700 desainer, enam pusat desain, serta 36 pusat penelitian dan pengembangan menguatkan posisi perusahaan itu di level global. Tak tanggung-tanggung, setiap hari, rata-rata 33 juta dollar AS, sekitar Rp 429 miliar, diinvestasikan Samsung Electronics untuk mengembangkan produknya.

Soal yang mungkin dianggap sepele, seperti suara diperhitungkan masak-masak. Di Research and Development Samsung Campus, suara didesain antara lain untuk mesin cuci, ponsel, hingga kulkas. Salah satu efek suara di ponsel Samsung Galaxy S3 adalah contohnya.

”Suara itu berasal dari cairan jus jeruk,” kata Senior Designer Mobile Communications Business Samsung Electronics, Myoung W Nam, sambil tersenyum. Samsung bahkan memiliki studio musik. Musisi, insinyur komputer, dan desainer suara dilibatkan untuk menentukan bunyi-bunyian yang tepat.

Menurut Abraham Pai, pegawai Corporate Communication Samsung Electronics, jika ingin menjalankan aplikasi hunian cerdas, konsumen membutuhkan hub (pusat jaringan) yang bisa mengeluarkan suara dan tersambung dengan ponsel.

Benda lain yang dibutuhkan, yakni alat sensor. Alat elektronik yang digunakan juga harus memiliki kemampuan untuk membuat aplikasi tersebut aktif. Jika ada pendingin udara telah terpasang, misalnya, alat itu belum tentu bisa digunakan untuk hunian cerdas.

”Harus termasuk keluaran terbaru dan cocok untuk sistem itu. Namun, kami optimistis, ke depan, hunian cerdas bisa berkembang pesat di berbagai negara,” ujar Pai.

Saat ini, baru sedikit penduduk dunia yang sudah menikmati teknologi itu, antara lain, di AS, Kanada, dan Korsel. Aplikasi hunian cerdas tak pelak membutuhkan jaringan nirkabel yang mumpuni. Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut Executive Vice President Global Communication Group Samsung Electronics David Steel, ia belum memiliki bayangan kapan hunian cerdas bisa diterapkan secara luas di Indonesia. Aplikasi itu harus dilakukan setahap demi setahap. Meski demikian, Samsung Electronics tetap optimistis.

Besarnya peluang pasar pada tahun mendatang, termasuk di Indonesia disebabkan tumbuhnya generasi muda dengan tingkat kesadaran tinggi untuk memanfaatkan teknologi. Apalagi, teknologi yang berkembang semakin menarik dan bersahabat bagi penggunanya (user friendly).

Semakin banyak orang
terhubung dengan internet
dan terus bertambahnya jumlah ponsel juga membuat peluang bisnis kian besar. ”Di mana
ada generasi muda dan ketertarikan terhadap teknologi baru, di sana ada potensi amat bagus. Tren itu muncul di mana-mana di dunia,” ujarnya.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 September 2016, di halaman 27 dengan judul “Mengintip Masa Depan di “Markas Besar” Samsung”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here