Menyiasati Mahalnya Biaya Kuliah

0
3032

Biaya kuliah yang terus naik saban tahun memang bikin ketar-ketir. Apalagi, bagi calon mahasiswa yang mau masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta. Namun, bila pintar menyiasati, soal ini masih bisa diatasi. Bagaimana caranya?

Amanda Ditya Pratomo, mahasiswa tahun pertama Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya (UB) Malang, punya pengalaman menarik soal ini. Dia lolos universitas tersebut melalui seleksi jalur mandiri. ”Saya senang dapat kuliah ke UB,” kata Tya, sapaan akrab Ditya, dengan bersemangat di Jakarta, Kamis (24/8).

Untuk kuliah di situ, keluarganya harus membayar total Rp 48,86 juta untuk uang pangkal dan biaya kuliah semester pertama. Biaya per semesternya, Rp 4,75 juta.

Menurut ibunda Tya, Dwi Ratna Aniastuti, untuk pembayaran kuliah, Tya masuk golongan III. Namun, Ratna senang anaknya tak perlu membayar biaya SKS (satuan kredit semester) atau biaya lainnya. Dia juga menganggap biaya tersebut tak semahal biaya di jurusan Desain Komunikasi Visual di universitas swasta yang bisa mencapai Rp 16 juta per semester.

”Saya membayar biaya kuliah untuk setahun, Rp 32 juta. Kemudian, Tya diterima di UB dan saya masih bisa menarik dana dari universitas swasta Rp 30 juta dan tinggal menambah untuk ke UB,” ujar Ratna.

Meski tak semahal biaya masuk perguruan tinggi swasta di Jakarta, tetapi jumlah itu tetaplah besar. ”Melihat biaya kuliah yang tidak murah, saya ingin cepat-cepat lulus,” kata Tya.

Widad Umaimah, bersyukur ketika tahun 2014 lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) ke jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tiap semester dia hanya membayar Rp 2,9 juta, tanpa biaya tambahan lain. Pada tahun pertama pun tak perlu membayar uang pangkal.

”Di awal saya menyertakan kartu keluarga, rekening listrik, surat keterangan gaji orangtua, serta bukti pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) hingga akhirnya ditetapkan masuk golongan tiga dan uang kuliah saya Rp 2,9 juta,” kata Widad.

Lain halnya dengan mereka yang lolos ke UNJ lewat jalur penerimaan mahasiswa baru (Penmaba), yakni jalur ujian mandiri di kampus. Mereka dipukul rata harus membayar Rp 6,1 juta tanpa proses wawancara atau menyertakan berkas.

”Setahu saya, tahun ajaran sekarang ini, mahasiswa yang lolos lewat Penmaba juga harus melalui tahap wawancara dan menyertakan berkas guna menentukan biaya kuliah,” tutur Widad.

Sementara Ariq Pradana, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta lega lulus tes masuk dengan nilai bagus sehingga masuk kategori ranking 1.

”Untuk tahun pertama, saya harus membayar Rp 19 juta dengan uang kuliah Rp 5 juta per semester,” ujar Ariq. Dia senang karena biaya di perguruan tinggi swasta yang dipilihnya tidak terlalu mahal dan tak jauh berbeda dengan perguruan tinggi negeri.

”Walau demikian, saya tetap berencana kerja sambilan untuk meringankan beban orangtua,” ujar Ariq.

Isnatia Isyak Stamboel lega lulus dari jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad). Selama kuliah dia harus membayar Rp 4 juta per semester. Teman-temannya ada yang harus membayar semacam uang pangkal antara Rp 20 juta hingga Rp 40 juta.

Bisa lebih murah

Kepala UPT Humas Universitas Negeri Jakarta Asep Sugiarto mengatakan, penentuan biaya kuliah di UNJ ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 39 Tahun 2016, tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dengan peraturan tersebut, setiap PTN mempunyai kebijakan yang berbeda-beda.

Di UNJ, misalnya, UKT tahun 2016 terbagi dalam delapan kelompok. Semakin tinggi kelompoknya, biaya kuliah semakin tinggi. Biasanya, kelompok V ke atas diperuntukkan bagi mahasiswa yang diterima lewat jalur mandiri. Sebenarnya, dalam peraturan itu, universitas dapat memungut uang pangkal untuk mahasiswa jalur mandiri. Namun, UNJ tidak melakukan hal itu.

Untuk UKT kelompok I di semua jurusan di UNJ, dikenakan biaya Rp 500.000 per semester. Biaya kuliah paling tinggi dikenakan untuk mahasiswa jurusan teknik sipil yang masuk kelompok VIII, yaitu Rp 10,3 juta per semester. Biaya kuliah di UNJ tahun ini mengalami kenaikan sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu.

”Semua penentuan biaya UKT itu berdasarkan peraturan menteri. Selain itu, kami mempertimbangkan permintaan dari jurusan, misalnya teknik sipil yang harus melakukan praktik yang biayanya dibebankan pada UKT,” kata Asep.

Namun, menurut Asep, daftar biaya kuliah yang sudah ditetapkan UNJ bukanlah harga mati. ”Tahun ini, kami menyediakan waktu sanggah UKT setelah pengisian data online. Banyak mahasiswa yang menggunakan kesempatan itu dengan datang langsung dan bertemu dengan wakil dekan fakultas dengan menunjukkan data-data, seperti slip gaji orangtua, foto rumah, dan pembayaran listrik,” kata Asep.

Dengan adanya masa sanggah UKT, biaya kuliah mahasiswa bisa turun ke kelompok di bawahnya. Selain itu, kata Asep, bila dalam perjalanan kuliahnya, mahasiswa juga bisa mengajukan permohonan penurunan UKT.

Dia mencontohkan seorang mahasiswa yang berada di kelompok VII, karena orangtuanya bekerja sebagai PNS di kementerian keuangan, dianggap mampu. Namun, ketika si mahasiswa duduk di semester III, ayahnya meninggal. Mahasiswa itu pun mengajukan keringanan biaya kuliah dan turun ke kelompok di bawahnya.

Sementara itu, di Universitas Indonesia (UI), penetapan biaya kuliah mahasiswa bukan hanya berdasarkan penghasilan penanggung biaya, tetapi juga mempertimbangkan pengeluarannya. Kepala Humas dan KIP UI Rifelly Dewi Astuti mengatakan, di UI, istilah UKT dikenal dengan nama Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOP-B) dengan biaya antara Rp 0 sampai Rp 7,5 juta untuk rumpun IPA dan Rp 0 sampai Rp 5 juta untuk rumpun IPS.

”Kalau ada mahasiswa keberatan, bisa ajukan keringanan dengan menunjukkan data administrasi yang kemudian kami survei ke lapangan. Untuk survei ke rumah mahasiswa, kami dibantu oleh BEM UI,” katanya.

Dengan mempertimbangkan pengeluaran penanggung biaya atau orangtua mahasiswa, biaya kuliah dua mahasiswa yang mempunyai penghasilan orangtua yang sama, bisa berbeda. Misalnya, dua mahasiswa mempunyai penghasilan orangtua Rp 5 juta, tetapi mahasiswa A mempunyai dua saudara, sedangkan mahasiswa B mempunyai empat saudara. Dengan kondisi itu, maka biaya kuliah mahasiswa A akan lebih rendah dari B.

”Kami sudah menerapkan BOP ini sejak tahun 2008 dengan menggunakan penghitungan manual, kemudian tahun 2009 semua menggunakan sistem penghitungan lewat onlinesehingga lebih mudah. Jadi, ketika pemerintah menerapkan aturan UKT, kami tidak kaget lagi,” ujar Rifelly.

Selain itu, UNJ dan UI juga memberikan informasi mengenai beasiswa. Tahun 2016 ini, bagi mahasiswa UNJ yang berasal dari Jakarta bisa menggunakan Kartu Jakarta Pintar (KIP) untuk mendapat bantuan dana dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Untuk mahasiswa UI, informasi beasiswa bisa didapatkan di beasiswa.ui.ac.id.

Banyak cara untuk menyiasati biaya kuliah yang kian mahal.

SIE/TIA

ARGUMENTASI

Biaya Terjangkau

Khairuddin Arsip Pribadi
Khairuddin, Jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, Padang

Ketika memasuki kuliah, biaya ada di urutan ketiga yang saya pertimbangkan setelah minat dan bakat. Biaya kuliah berperan penting untuk kelancaran selama kuliah sampai wisuda. Saya harus menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan kesang-
gupan orangtua. Saya pun memilih perguruan tinggi negeri yang terjangkau.

Untuk memenuhi biaya kuliah, saya tidak sepenuhnya meminta kepada orangtua. Saya berupaya memperoleh beasiswa. Saya juga mencari uang tambahan dengan menjadi guru privat setiap sore dan malam hari. Meski demikian, saya bisa meringankan biaya kuliah dan memenuhi pengeluaran saya sehari-hari. Setiap mahasiswa punya cara yang berbeda dalam menyikapi biaya kuliah.

Pertimbangan yang Matang

Rizka Yuniarti Arsip Pribadi
Rizka Yuniarti, Jurusan Perhotelan, Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Jakarta

Kondisi keuangan yang kurang memadai membuat saya sangat selektif memilih kampus. Saya dapat mengenyam pendidikan di bidang pariwisata karena bantuan dari SMK saya. Saya senang bisa kuliah di sini, meskipun biayanya cukup mahal. Berbagai macam cara, seperti mencari beasiswa, saya tempuh agar saya bisa kuliah di jurusan pariwisata. Kini, saya mendapat beasiswa unggulan 80 persen dari seluruh biaya kuliah sampai lulus.

Saya berusaha fokus pada kemampuan yang saya miliki agar tidak ada kata salah jurusan dan membuang biaya kuliah yang mahal. Untuk calon mahasiswa, pilihlah kampus terbaik dengan pertimbangan yang matang.

Hidup Hemat

Vinsensius Jemali Arsip Pribadi
Dominicus Bagus Christanto, Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Memilih jurusan merupakan salah satu keputusan besar dalam hidup saya. Setahun lalu, pernah terlintas dalam benak saya untuk mengambil jurusan seni rupa, tetapi tidak jadi karena biayanya terlalu mahal. Saya berpikir ulang dan mempertimbangkan prospek pekerjaan yang akan saya jalani serta kebutuhan yang saya perlukan selama masa perkuliahan.

Banyak cara yang saya tempuh demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak sendiri untuk berhemat, sampai mengikuti berbagai lomba. Saya juga berencana terjun ke bisnis bimbingan belajar dan menjadi asisten dosen, sehingga saya tidak membebani orangtua.

Batasi Pengeluaran

Dominicus Bagus Christanto Arsip Pribadi
Vinsensius Jemali, Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Widya Mandira, Kupang

Tidak hanya PTS yang mematok biaya tinggi dan cenderung naik setiap tahun ajaran baru, PTN juga ikut bersaing soal biaya kuliah. Bahkan, terjadi ketidakseimbangan pembiayaan yang dikenakan perguruan tinggi pada setiap jurusan. Hal ini kadang membuat mahasiswa harus mempertimbangkan biaya kuliah ketika memilih jurusan.

Banyak cara yang bisa dilakukan mahasiswa, salah satunya menyusun perencanaan keuangan untuk setiap tahun anggaran, agar bisa terus kuliah sampai selesai dan tidak tidak akan putus di tengah jalan gara-gara uang kuliah. Membatasi pengeluaran hanya pada hal-hal pokok, seperti uang makan, ongkos ke kampus, uang buku, dan biaya mengerjakan tugas. Kita juga bisa memanfaatkanWi-Fi yang ada di kampus untuk mencari referensi buku lewat internet.


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Agustus 2016, di halaman 25 dengan judul “Menyiasati Mahalnya Biaya Kuliah”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here