Mencari Hidup dari Buku Komik

0
11998

Di Indonesia, komikus tidak cukup sekadar piawai menuangkan cerita dalam gambar. Mereka juga dituntut paham bisnis dan pintar menjual karyanya. ”Kerja” tambahan itulah kiat para komikus ini bertahan hidup di tengah dominasi komik impor.

Meminjam istilah pengamat budaya pop Hikmat Darmawan, komikus Indonesia adalah orang dengan cinta yang keras kepala. Kecintaan itulah yang membuat komik Indonesia tetap hidup sampai kini.

Setelah berjaya pada era 1960-1970, komik Indonesia lama mati suri. Di tengah dominasi komik impor, komik Indonesia kini menggeliat lagi dan terus berkembang. Komikus Indonesia juga berkarya merespons tuntutan zaman digital. Namun, masih besar tantangan untuk membuatnya kembali jadi tuan di negeri sendiri.

Dominasi komik impor, tepatnya terjemahan komik impor, adalah pemandangan kasatmata yang mudah ditemukan di toko buku besar. Data produksi komik pun membuktikan itu. Dua penerbit besar komik di Indonesia, Elex Media dan M&C!, menerbitkan sekitar 200 judul buku komik impor per bulan. Di jaringan Toko Buku Gramedia saja, pada Januari-Juli 2015, dua penerbit ini sudah menjual 3,83 juta eksemplar komik impor.

Penerbit M&C! sebenarnya memiliki Divisi Koloni (Komik Lokal Indonesia) yang khusus menerbitkan komik Indonesia. Sayangnya, sampai kini terbitan utama M&C! tetap terjemahan komik impor. Sekitar 50 judul komik impor diterbitkan per bulan atau 600 judul per tahun. Sementara Koloni hanya ditargetkan terbit 12 judul setahun.

Di tengah dominasi komik impor itu, komik Indonesia tetap hadir. Sebagian besar diterbitkan oleh perusahaan berskala kecil yang memang khusus menerbitkan karya komikus Indonesia. Bagaimana komikus Indonesia bisa tetap berkarya dan menghidupi diri dengan komik di tengah arus utama industri penerbitan yang tak berpihak kepada mereka?

Komik Indonesia Kompas/Nur Hidayati
Komik Indonesia
Kompas/Nur Hidayati

Berkembang

Komikus Indonesia sebenarnya berhadapan dengan beragam tantangan, mulai dari penerbit yang tak terbiasa dan tak mengalokasikan anggaran untuk mempromosikan komik, karya yang tak dihargai secara finansial dengan patut, royalti kecil, dan aturan pajak yang ikut memberatkan. Cinta yang keras kepala membuat mereka tak putus asa.

Belajar dari kegagalan berulang-ulang menerbitkan dan menjual komik, komikus Chris Lie mencari penghidupan dengan cara lain. Ia bermitra membangun Studio Caravan pada 2008. Kini, Caravan menggarap pesanan klien dari sejumlah negara berupa komik, karakter gim video, desain mainan, konsep desain untuk film, juga novel grafis. Marvel Comics, Penguin Books, Hasbro, dan Mattel termasuk dalam daftar klien Caravan.

Keuntungan finansial Caravan jadi salah satu penopang Chris meluncurkan Reon, majalah komik yang khusus menyuguhkan kompilasi karya komikus Indonesia. Sejak Juli 2013, Reon sudah menerbitkan 16 volume majalah dan 2 serial komik yang dibukukan setelah dimuat berseri di majalah.

”Tujuan utama Reon adalah mengupayakan agar komikus Indonesia bisa hidup dari membuat komik,” ujar komikus penerima beasiswa Fulbright di Savannah College of Art and Design, Georgia, Amerika Serikat, ini.

Komikus pengisi majalah Reon, yang tersebar di beberapa kota, rata-rata merampungkan 30 halaman komik per bulan. Mereka dibayar dengan harga karya per halaman. Dari karya mereka, komikus memperoleh penghasilan Rp 6 juta hingga Rp 8 juta per bulan. ”Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan dasar dulu,” ujar Chris.

Komikus juga mendapat royalti ketika serial komik mereka di majalah dijual terpisah sebagai komik satuan. Tambahan royalti didapatkan pula dari aksesori (merchandise) karakter komik. Beberapa karakter komik Reon kini sedang dijajaki untuk digarap jadi film televisi, animasi, dan gim video.

Reon yang dicetak 15.000 eksemplar per edisi didistribusikan lewat jaringan toko buku dan minimarket. Forum-forum komik juga jadi wahana pemasaran lain. Pada April 2015, Reon bahkan menguji pasar dengan menggelar acara sendiri di Depok, Jawa Barat. Dalam acara itu, para komikus Reon dipertemukan dengan penggemar mereka.

Ternyata acara dua hari itu sukses menarik sekitar 25.000 pengunjung yang mengenali karakter komik Reon. Bank BCA juga menggandeng Reon untuk menerbitkan kartu ATM bergambar karakter komiknya. Kartu ATM itu terbukti diminati anak muda sehingga dipertahankan BCA sampai saat ini.

Curhat Anak Bangsa (CAB) yang sebelumnya dikenal sebagai penerbit komik indie juga berkembang pesat setelah bermitra dengan Mizan. Bermula dengan tiga komikus pada 2011, kini CAB bekerja dengan 20 komikus. Komikus itu bekerja dengan gaji bulanan. Mereka rutin meluncurkan 10 judul serial komik anak per bulan.

Digital dan cetak

Komikus di Indonesia adakalanya juga mengambil alih tugas penerbit untuk memasarkan produk. Sweta Kartika, misalnya, mula-mula mengunggah komik Grey & Jingga karyanya secara berkala di media sosial. Akun komik ini memiliki 14.000 pengikut sebelum dicetak dan diterbitkan M&C!. Dalam waktu tiga minggu, cetakan pertama komik ini habis dan dicetak ulang. ”Dengan mencetak komik yang punya penggemar, penerbit memangkas promosi,” ujar Sweta.

Meski tenar di jagat digital, Sweta ingin karyanya dicetak penerbit sebagai portofolio. Buku komik tetap memiliki pencinta tersendiri. Namun, ia tak berharap banyak dari royalti penerbitan komik. Sweta sempat bereksperimen mencetak sendiri edisi lanjutan Grey & Jingga sejumlah 500 eksemplar. Komik edisi terbatas itu ia edarkan lewat pemesanan di media sosial dan dijual langsung pada forum-forum komik.

”Ternyata untungnya lebih gede daripada royalti dua kali cetak ulang di penerbit. Tetapi, penerbit besar, kan, punya jalur distribusi lebih luas. Lebih banyak orang bisa membaca karya saya,” tuturnya.

Komikus yang mampu mengolah ranah digital sekaligus cetak memang jadi pemasar yang tangguh bagi karyanya. Faza Meonk pun membuktikan itu dengan karakter komiknya, Si Juki. Bermula dari blog pribadi, karakter komik ini sukses diterbitkan oleh Bukune sekaligus digarap untuk strip digital Webtoon.

Tak berhenti di sana, Faza pun membangun Pionicon, perusahaan manajemen kekayaan intelektual berbasis karakter. Di perusahaan itu, Faza juga mengelola karakter karya komikus Indonesia yang lain. Targetnya, harus ada karakter komik Indonesia yang populer di negeri sendiri dan bisa mewujud ke format lain, seperti film.

Negeri ini sudah terbukti sebagai pasar komik yang besar, tetapi menemukan kata komik dalam peta kebijakan pemerintah sungguh tak mudah. Meski begitu, berhadapan dengan struktur industri dan pasar yang tidak cukup mendukung mereka berkarya, para komikus ini menolak menyerah.

(Nur Hidayati)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Oktober 2015, di halaman 1 &15 dengan judul “Mencari Hidup dari Buku Komik”