Hidup Tak Lagi Sepedas Makaroni

0
8467

Dua tahun terakhir, Makaroni Ngehe, camilan yang diproduksi Ali Muharam (29), terbilang mencuat. Di Jakarta, gerai-gerai makaroni ini selalu ramai pembeli. Gerai itu, antara lain, berada di sekitar Kampus Bina Nusantara Kemanggisan, Jalan Arteri Pondok Indah, kawasan Kampus Mercubuana, dan Meruya Ilir.

Ada makaroni kering dan makaroni basah yang menjadi produk andalan. Lalu ada bihun, mi kering, dan otak-otak goreng. Tiga yang disebut belakangan adalah variasi baru dari produk utama Makaroni Ngehe. Ada juga dua varian rasa baru yang hanya ada di akhir pekan, balado dan keju. Harga sangat merakyat, yaitu Rp 5.000.

Semua ditata di wadah terpisah di atas meja saji. Tersedia dua bumbu pilihan, asin atau pedas, sesuai selera. Bisa jenis tunggal atau kombinasi dari berbagai jenis camilan yang ada. Misalnya, makaroni kering dengan bihun goreng pedas atau makaroni basah dengan bihun goreng pedas atau asin. Suka-suka pembeli. Ada yang suka pedas-pedas gurih.

Pembeli juga bisa menentukan tingkat keasinan atau kepedasan camilan. Sesaat setelah kru penyaji mencampur bahan dan bumbu, pembeli dipersilakan mencicipi tingkat kepedasannya. Proses mencampur itu menghasilkan suara unik dan menjadi atraksi tersendiri. Proses mengalami itu menjadi nilai tambah yang menjadi daya tarik Makaroni Ngehe.

Bantuan modal

Makaroni Ngehe mulai diperkenalkan Ali sekitar dua tahun lalu. Kala itu, Ali yang asal Tasikmalaya, Jawa Barat, menjalankan usaha dengan bantuan modal dari sahabatnya. Sebelumnya, Ali pernah menjadi penjual sandal, office boy, pekerja serabutan di warung tegal, bahkan pernah menjadi penulis skenario sinetron di sebuah rumah produksi.

”Sepertinya memang saya enggak cocok bekerja lama sama orang lain,” kata Ali di kantor Makaroni Ngehe di kawasan Meruya, Jakarta Barat.

Berbekal modal pinjaman Rp 20 juta, Ali membuka warung pertamanya di kawasan Kampus Bina Nusantara, Kemanggisan. Alasannya, karena tentu akan ada pembeli dari kalangan mahasiswa.

Makaroni yang kemudian dinamai Makaroni Ngehe ini, menurut Ali, merupakan resep peninggalan almarhumah ibunya. Waktu Ali masih kecil, sang ibu biasa menghidangkan makaroni goreng kering untuk tamu-tamunya. ”Bumbu utamanya hanya ada dua, garam dan bubuk cabai,” kata Ali.

Resep peninggalan sang ibu itulah yang kemudian diadopsi oleh Ali yang memang gemar memasak ini dengan berbagai modifikasi. Kebetulan Ali pernah mengutarakan niat untuk mengembangkan usaha makaroni kreasi sang ibu. Sementara nama ngehe dipakai sebagai pengingat akan jalan hidup Ali yang sangat berat.

Ngehe adalah bahasa yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ekonominya yang sangat parah alias ancur-ancuran. Ali, misalnya, pernah hanya makan buah jambu di kos-kosan. Dia juga pernah bekerja di warteg sekadar untuk mendapat
makan.

”Dengan mengingat kata ngehe itu akan selalu terpacu semangat untuk menjalankan bisnis ini. Jangan sampai balik lagi ke masa sulit itu,” ujar pengagum Bob Sadino ini.

Sejak awal, Ali tak mau gegabah. Segala sesuatu dia pikirkan masak-masak agar usahanya berjalan baik. Mulai dari konsep, pemilihan nama yang menarik, cara-cara berpromosi yang tepat, standar pelayanan, hingga kesan dan pengalaman yang akan diperoleh konsumen.

Untuk level kepedasan, misalnya. Ali menggunakan istilah yang menggelitik, #ciwitbulilis, #kepretpakendang, dan #pitnahbulilis. Ketiganya dipakai berdasarkan kisah Ali saat duduk di bangku sekolah.

”Saya pernah diciwit (cubit), dikepret, dan difitnah sama mereka. Pedasnya kira-kira seperti diciwit, dikepret, sampai difitnah. Pitnahbulilis-lah yang paling pedas,” kata Ali. Ia tak ada niat untuk menyudutkan guru-gurunya itu kecuali sebagai kenang-kenangan belaka.

Ali Muharam Pemilik usaha Makaroni Ngehe  Kompas/Riza Fathoni
Ali Muharam
Pemilik usaha Makaroni Ngehe
Kompas/Riza Fathoni

Media sosial

Dari cara promosi, Ali pun memanfaatkan media sosial. Mulai dari akun Facebook, Twitter, hingga Instagram. Mereka juga memiliki nomor khusus yang bisa dihubungi melalui WhatsApp dan PIN Blackberry untuk pesanan daring. Tidak hanya di dalam negeri, pesanan Makaroni Ngehe pun merambah ke London, Jepang, dan Amerika.

”Semua itu saya peroleh dari pengalaman saya ketika jadi karyawan. Tapi, saya juga baca buku, Kompasiana, dan rubrik karier. Banyak sekali yang saya serap dari sana,” ucap Ali.

Inovasi pun terus dilakukan agar konsumen selalu mendapatkan pengalaman baru. Salah satunya dengan memberi varian-varian menu baru.

Saat ini, Makaroni Ngehe sudah memiliki 10 cabang dengan penghasilan bersih per gerai rata-rata Rp 4 juta per hari. Dalam waktu dekat, Ali akan membuka cabang ke-11 di Bogor. ”Saya juga berencana untuk membuat model dine in,” kata Ali penuh semangat.

Meski terbilang sukses dalam waktu singkat, Ali tak mau jemawa. Kepada 90-an karyawannya yang rata-rata laki-laki, Ali selalu menekankan bahwa dalam berbisnis dia tidak melulu hanya mengejar uang. Ada banyak hal yang menjadi perhatiannya, termasuk suasana kerja yang nyaman dan penuh kekeluargaan.

”Ini penting agar kita enggak jadi seperti robot. Kalau ada suasana yang nyaman, kita bisa merangkul karyawan dan dari situ sinerginya jauh lebih terasa. Karyawan juga jadi punya rasa memiliki terhadap perusahaan,” ucap Ali.

(Dwi As Setianingsih)


Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 September 2015, di halaman 18 dengan judul “Hidup Tak Lagi Sepedas Makaroni”